728x90 AdSpace

Update
23 Maret 2020

“Di Rumah Saja”

Meningkatnya Kemiskinan di Kabupaten Kuningan

Himbauan pemerintah mengenai penanganan wabah corona, diantaranya yang paling terkenal, yaitu istilah: human distance dan lockdown. Pembahasan mengenai kedua istilah ini sudah banyak kita jumpai bertebaran di media sosial. Apa dampaknya?

Supaya kedua istilah tersebut mudah dicerna masyarakat awam, maka saya menyederhanakan istilah “human distance dan lockdown” menjadi: “di rumah saja”. Iya di rumah saja! Belajar di rumah, kerja di rumah, ibadah di rumah, belanja kebutuhan dari rumah.

Lembaga pendidikan-sekolah telah mengintruksikan kebijakan supaya guru dan murid melakukan sistem didaktik online. Hal ini tentu merupakan usaha positif guna menghindari pengumpulan masa sehingga memutus mata rantai penyebaran covid19. Apakah lembaga Pendidikan di Kabupaten Kuningan sudah siap?

Guru, nara didik, orang tua sudah siap melakukan pengajaran online? Siapa yang bertanggung jawab menyediakan fasilitas online tersebut? Guru-dosen dan nara didik membutuhkan tekhnologi yang suport supaya pengajaran dan informasi bisa tersampaikan. Modal sendiri, pulsa dan kuota internet sendiri? Itu artinya biaya pendidikan membengkak.

Seberapa banyak guru-dosen dan nara didik yang akan bertahan jika itu ditanggung sendiri? Belajar di rumah malah menjadi beban dan pemborosan. Data internet menjadi kebutuhan primer, lebih mahal dari harga seliter beras untuk makan.

Mengapa pemerintah tidak mengratiskan saja sinyal internet bagi masyarakat sebagai layanan publik? Ketimbang beli kuota internet, lebih baik beli sembako untuk bertahan hidup. Matikan hp dan biarkan tugas sekolah-kampus tikad usah dikerjakan. Guru-dosen dan nara didik sudah kehabisan kuota.

Di sisi lain, orang tua dihimbau untuk bekerja di rumah saja. Dengan UMR Kabupaten Kuningan yang masih minim dibandingkan daerah lain, diam di rumah menjadi persoalan serius. Bagi golongan masyarakat yang memiliki gaji tetap setiap bulannya, pun belum bisa bertahan jika tidak ditunjang dengan usaha sampingan, seperti jualan dan lainnya.

Sektor perniagaan, jasa transportasi anjlok, karena anda harus di rumah dan tetap jaga jarak dengan yang lain. Gaji sebulan tidak akan cukup, sedangkan usaha sampingan sekarat. Berbeda dengan kelompok masyarakat yang hidupnya tidak mengandalkan gaji, atau wirausaha. Sekolah kosong, kantor kosong, angkot kosong, warung-kantin kosong! Siapa yang beli dagangan saya Bu? Ekonomi drastis terjun payung tanpa ada parasut.

Jika dalam kurun waktu 14 hari, persoalan tidak dapat teratasi maka grafik kemiskinan di Kabupaten Kuningan akan naik tajam. Apa lagi pemerintah pusat mengumumkan bahwa waktu diperpanjang yang tadinya hanya 14 hari menjadi 91 hari. Itu artinya, 3 bulan di rumah saja dengan tanpa penghasilan. Bisnis perniagaan gulung tikar, jasa transportasi lumpuh. Dalam kondisi perut lapar dan tidak punya uang, masyarakat bisa menjadi nekat. Anda mau menindak atau mementung masyarakat yang sedang lapar dan cari nafkah? Bukan itu solusinya. Anda enak, diam di rumah tapi dapat gaji! Kami di suruh tinggal di rumah saja, siapa yang gaji?

Usul saya, Pemerintah daerah dan jajarannya harus serius membuat strategi ketahanan ekonomi wilayah. Alokasi dana bukan hanya untuk penanggulangan wabah covid19 saja, juga untuk mengatasi kehancuran ekonomi masyarakat. Pemerintah bukan hanya bisa menghimbau dan sosialisasi wabah saja, tetapi juga harus melakukan aksi guna menstabilkan situasi ekonomi. Kabupaten Kuningan bukan darurat covid19, melainkan darurat ekonomi. Selamatkan rakyat! 

Ki Pandita

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: “Di Rumah Saja” Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan