Hot News
25 Agustus 2021

Dogdog jeung Bebegig (Dogig) Seni Pertunjukan Simbol Kegotongroyongan Masyarakat Desa Ciniru

Oleh Drs. Dodo Suwondo, MSi ( FB. Hyang Purwa Galuh )



Seni pertunjukan 
merupakan karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. Performa biasanya melibatkan empat unsur, yaitu: (1) waktu, (2) ruang, (3) pelaku seni, dan (4) hubungan seniman dengan penonton. Keempat unsur inilah terwujudnya sebuah seni pertunjukan sehingga satu sama lain saling melengkapi.

Meskipun seni pertunjukan bisa juga dikatakan bahwa termasuk di dalamnya merupakan kegiatan-kegiatan seni yang bersifat kebiasaan umum seperti teater, tari, musik, juga sirkus atau akrobat, tetapi biasanya kegiatan-kegiatan seni tersebut pada umumnya lebih dikenal dengan istilah pertunjukan seni. Seni pertunjukan adalah istilah yang biasanya mengacu pada seni konseptual atau avant garde yang semula tumbuh dari seni rupa, namun kini mulai beralih ke arah seni kontemporer.

Jenis seni pertunjukan seperti: seni akrobat, mengamen, komedi/lawak, tari, pentas musik, opera, sulap, teater, film, dan lain-lain─termasuk seni (kebahasaan) seperti: membaca puisi, pidato, saritilawah.

Di tatar Sunda terdapat berbagai jenis seni pertunjukan baik yang tersebar di seluruh wilayah geografis/otonomi, di dua atau lebih wilayah yang berbatasan, maupun yang hanya terdapat di satu wilayah (geografis/otonomi).

 

Berikut ini contoh jenis-jenis seni pertunjukan yang terdapat di Jawa Barat:

  wayang golék (selruh Jawa Barat/tatar Sunda);

  wayang orang (selruh Jawa Barat/tatar Sunda);

  wayang kulit (Cirebon, Indramayu, sebagian Majalengka, sebagian Kuningan);

  wayang cepak (Cirebon, Indramayu)

  sandiwara (selruh Jawa Barat/tatar Sunda);

  buncis (selruh Jawa Barat/tatar Sunda);

  rudat (selruh Jawa Barat/tatar Sunda);

  topeng banjet (Karawang);

  bangreng (Sumedang);

  burok (bagian timur Kuningan, bagian timur Cirebon, bagian barat Brebes)

  sintrén (bagian timur Kuningan, bagian timur Cirebon, bagian barat Brebes)

  liong (Cirebon, Indramayu, sebagian Majalengka, sebagian Kuningan); 

  tarling (Cirebon, Indramayu);

  akrobat (Cirebon, Indramayu, bagian utara Majalengka)

  lais (Garut, Tasikmalaya, Ciamis);

  bebegig sukamantri (Ciamis);

  debus (selruh Jawa Barat/tatar Sunda);

  sulap (selruh Jawa Barat/tatar Sunda);

  calung (selruh Jawa Barat/tatar Sunda);

  réog (selruh Jawa Barat/tatar Sunda);

  bodéhan (Kuningan);

  dogdog jeung bebegig atau dikenal dengan istilah “dogig” (Kuningan);

  dll.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa hanya ada beberapa jenis seni pertunjukan yang hanya terdapat di satu daerah baik secara geografis, maupun secara otonomi, yaitu (1) topeng banjet (Karawang); (2) bangreng (Sumedang); (3) bodéhan (Kuningan); (4) bebegig sukamantri (Ciamis); (5) dogig (Kuningan).

Dari sekian banyak jenis seni pertunjukan yang terdapat di Jawa Barat (tatar Sunda), penulis akan fokus ke salah satunya, yaitu Seni Dogig yang merupakan akronim dari  Seni Dogdog Jeung Bebegig. Kesenian ini asli dari Kuningan dan hanya ada satu di tatar Sunda, yaitu di Dusun Buyut Saur, Desa/Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan.

Ini penting untuk diketahui, mengingat bahwa kebudayaan adalah keseluruhan gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka  kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar (Van Vollenhoven 1981 :  180). Jadi kebudayaan merupakan hasil budi dan daya manusia, kebudayaan tumbuh secara  akumulatif, sadar dan sengaja, kebudayaan sangat besar artinya bagi suatu bangsa, artinya  dengan kebudayaan itu bangsa itu akan nampak sempurna tingkat hidupnya. Kebudayaan  diperoleh melalui proses belajar serta secara turun temurun dari Nenek Moyang sebelumnya. Kebudayaan mempunyai beberapa bagian, salah satu dari kebudayaan adalah seni.

Seni pertunjukan dalam keberadaanya tidak bisa lepas dan sebuah kondisi yang pernah dialami oleh masyarakat, dengan kata lain keberadaan seni pertunjukan sangat erat kaitanya dengan aspek historis, menyangkut masalah pengalaman secara kolektif yang pernah dialami oleh masyarakat. Hal ini yang melatar belakangi munculnya kesenian itu.

Tulisan lainnya:

Pentingna Ngamumulé Budaya

Tarékah Ngamumulé jeung Ngamekarkeun Kabudayaan Sunda

Ratusan ciri khas seni pertunjukan dalam warisan budaya tak benda (WBtB) di Kabupaten Kuningan yang diperkirakan terancam punah. Hal tersebut seiring dengan lajunya pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi informatika dan komunikasi sehingga peradaban manusia pun ikut bergerak. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologilah barangkali yang sangat mempengaruhi pola kehidupan manusia─dan serta meninggalkan nilai-nilai tradisional yang diakui sangat tinggi─yang pada gilirannya menghilangkan jati diri bangsa.

Jika kita ingin, tentu saja tidak untuk dibiarkan, karena Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya; dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan kebudayaan pun mengharapkan kebudayaan bangsa tetap lestari bahkan maju. Oleh karena itu untuk menjawab tantangannya diperlukan revitalisasi budaya serta perlu melakukan regenerasi, untuk melestarikannya.

Jika masyarakat Kuningan aktif mengembangkan kesenian daerah, efek positifnya akan dirasakan dengan terciptanya industri pariwisata. Satu daerah tidak akan maju jika budaya setempat tidak berkembang. Karena itu, kesenian tradisional harus diperkuat sebagai daya tarik wisata. Kuningan memiliki kebudayaan salah satunya adalah seni pertunjukan dogdog dan bebegig atau dikenal dengan istilah “dogig” yang bertahan di Desa Ciniru, Kecamatan Ciniru.

Seni pertunjukan dogdog dan bebegig atau dikenal dengan istilah “dogig” adalah salah satu seni pertunjukan khas Kuningan bahkan hanya berada di satu desa di Kabupaten Kuningan, yaitu di Desa dan Kecamatan Ciniru. Seni pertunjukan “dogig” ini sangat unik dan berbeda dengan seni pertunjukan lainnya yang sama-sama berunsur bebegig, misalnya jika dibandingkan dengan Bebegig Sukanabtri, Ciamis. Oleh karena itu seni pertunjukan ini membutuhkan perhatian khusus untuk menjaga keberadaan dan kelestarianya sehingga lolos dari kepunahan. Mengingat bahwa Seni Dogig merupakan warisan budaya dari hasik kreativitas manusia dan disepakati masyarakat penggunanya.

Ketertarikan pada objek salah satu jenis kesenian yang disebut “Seni Dogig” (dogdog jeung bebegig) adalah untuk: (1)  Untuk mengetahui tentang latar belakang atau cikal bakal munculnya seni Dogdog dan Bebegig (Dogig) yang hanya terdapat di Kabupaten Kuningan; (2)  menggambarkan tentang latar belakang atau cikal bakal munculnya seni Dogdog dan Bebegig (Dogig) yang hanya terdapat di Kabupaten Kuningan; dan  (3) mengetahui tentang bagaimana upaya pelestarian seni Dogdog dan Bebegig (Dogig) yang hanya terdapat di Kabupaten Kuningan.

Memverifikasi keberadaan seni Dogdog dan Bebegig (Dogig) tentang kebenarannya sangatlah penting mengingat kekayaan seni pertunjukkan di tatar Sunda begitu banyak sehingga ada lemungkinan satu sama lainnya ada yang sama atau mirip. Apakah ada kemiripan atau sama dengan kesenian bebegig lainnya? Seperti halnya seni pertunjukan Dogdog jeung Bebegig (Dogig) Desa/Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan. Jika masih hidup dan digunakan masyarakat tentu harus dikembangkan ke wilayah lainnya baik pemasarannya maupun ketrampi;annya. Jika sudah jarang digunakan bahkan berpotensi mati tentu harus diusahakan agar dapat dihidupkan kembali keberadaannya sehingga tetap langgeng menjadi kekayaan budaya Kabupaten Kuningan.

Melestarikan salah satu warisan budaya tak benda (WBtB), jenis seni pertunjukan Dogdog dan Bebegig (Dogig) agar tetap hidup baik di daerah asalnya maupun dapat berkembang di wilayah lain di Kabupaten Kuningan merupakan kewajiban bagi para pialang budaya. Dan tentu saja kita harus berusaha untuk memajukan seni pertunjukan Dogdog jeung Bebegig (Dogig) agar lebih dikenal baik di daerah sendiri maupun ke daerah luar Kabupaten Kuningan sebagai aset wisata. Dan yang tak kalah pentingnya adalah menjadikan seni pertunjukan Dogdog jeung Bebegig (Dogig) sebagai salah satu ikon kesenian Kuningan karena tidak terdapat di daerah lain─luar geografis Kuningan, seperti halnya Bebegig Sukamantri menjadi ikon Ciamis.

Jika kita gali asal mulanya kesenian ini bermula dari bebegig, yang artinya orang-orangan yang biasa ditempatkan di sawah atau di kebun. Sesuai dengan pengertiannya bahwa bebegig adalah orang-orangan yang digunakan untuk menakut-nakuti hewan yang dianggap hama tanaman yang diletakkan di sawah atau kebun (KBBI).

Berkenaan dengan dogdog, sebenarnya dogdog hanya merupakan waditra (alat musik) sedangkan nama jenis keseniannya adalah réog. Satu set reog terdiri dari empat susun waditra dogdog, yaitu: (1) tilingtingtit; (2) tong; (3) brung; dan (4) badublag. Dengan demikian maka seni réog ini adalah seni musik tabuh yang harmonis, patembalan saling mendukung antara satu waditra dengan waditra lainnya, atau dari waditra kesatu sampai waditra keempat. Seni reog ini dapat mengiringi lagu-lagu yang dilantunkan oleh juru kawih. Oleh karenanya kesenian reog dapat pula ditambah dengan waditra lain sebagai pelengkap atau pemanis, seperti kendang, goong, dan tarompét.

Pengertian dogdog itu sendiri adalah waditra jenis alat pukul berkulit, yang dimainkan dengan cara dipukul dengan menggunakan alat bantu panakol (pemukul) – (KBBI).

Dua jenis alat kesenian inilah membentuk satu kesatuan. Yang satu merupakan alat kelengkapan bertani (bercocok tanam), dan yang satunya adalah waditra réog─alat musik pukul asal Sunda. Maka dari itu kesenian ini disebut Seni Dogig.

Seni Dogig adalah seni pertunjukan hélaran yang pemainnya meniru orang-orangan dengan diiringi waditra dogdog pada kesenian réog.

Pengertian di atas merujuk pada dua unsur utama, yaitu (1) dogdog yang merupakan alat musik tabuh yang terbuat dari kuluwung atau kelongsong atau tabung atau bumbung dari kayu yang di salah satu sisi kuluwungnya dipasang kulit binatang (biasanya kulit kambing); (2) bebegig yang terbentuk orang yang seluruh badannya dibalut ijuk dari pohon kawung (enau) dan pada muka kepalanya dipasangi kedok (topéng) dengan berbagai karakter, seperti kedok kepala binatang, kepala raksasa, juga muka perempuan. Kelengkapan lainnya adalah kolotok munding (kerbau) yang dikalungkan.

Aksesoris inilah yang membedakan antara Seni Dogig Ciniru dengan bebegig lainnya, seperti misalnya Bebegig Sukamantri, Ciamis.

 

Kesenian Dogig menuju tempat hélaran

 

Kesenian dogig (dogdog jeung bebegig) merupakan perpaduan antara seni réog (dogdog) dan bebegig sebagai properti bertani. Sudah sejak lama masyarakat Ciniru, Kabupaten Kuningan melakukan pertanian secara tradisional, dan ini berlaku turun temurun. Selain mengolah sawah, karena wilayah ini adalah daerah berbukitan maka sistem pertanian pun berpadu dengan ladang. Menanam padi pola huma merupakan alternatif selain sawah.

Keberadaan tanaman baik di sawah ataupun di ladang tentu tak jauh dari hama peranjah tanaman. Kalau di sawah umumnya burung dan tikus. Karena itu dibuatlah pengamanan agar tanaman padi tidak bisa diranjah hewan yang salah satu caranya adalah dengan dipasangnya bebegig yang ditancapkan di beberapa tempat baik di sawah maupun di ladang. Artinya tugas bebegug adalah untuk mengusir hama, dengan cara menakut-nakutinya..

Bentuk bebegig bervariasi. Di lain tempat cukup dengan bilah bambu yang disilang seperti layang-layang lalu diberi baju dan celana, dan di bagian kepalanya dipasang tudung. Lain halnya di guguyuh Ciniru, yang saat itu sebagai sesepuhnya adalah Abah Kertadipura, beliau berpikir “bagaimana caranya mengusir hama padi”. Hasil pemikirannya muncul bebegig yang terbuat dari dua potong bambu dipasang silang seperti bagan layang-layang lalu dibungkus dengan injuk  (ijuk), dibentuk boneka manusia, kemudian dipasang kedok (topeng). Setelah itu ditancapkan di sawah atau di ladang (huma). Dengan cara itu diharapkan hewan yang menjadi hama bisa menjauh karena takut, sehingga panen padi bisa cukul atau mucekil. Hasilnya rada lumayan, terutama burung-burung sepertinya banyak yang takut.

Namun ternyata masih kurang efektif untuk di huma. Karena di huma hama padi bukan hanya burung dan tikus, melainkan hewan-hewan yang lebih besar, seperti peucang, mencek, monyét, bahkan babi hutan (bagong). Hama-hama ini malah lebh rakus. Apalagi bagong, hewan ini bukan hanya memakan daun dan batang, tetapi menyungkur tanahnya karena di dalam tanah banyak cacing─yang merupakan kesukaan bagong. Dengan demikian muncul gagasan para penggarap huma untuk mencoba membuat bebegig dengan membalut badannya sendiri dengan injuk (ijuk). Jadilah beberapa orang berkostum injuk (ijuk)─layaknya bebegig, hanya untuk menghalau hewan-hewan tersebut─tidak untuk dibunuh.

Selanjutnya. Pada tahun 1946, ketika itu yang menjadi Kuwu (Kepala Desa) adalah Abah Kertadipura. Beliau terinspirasi oleh bebegig (manusia) untuk diarak pada pesta kemerdekaan, tanggal 17 bulan Agustus. Saat itu peringatan pertama setelah proklamasi 17 Agustus 1945, arak-arakan pesta dilengkapi dengan hélaran bebegig. Dan, saat itu pula pertama kali bebegig disertakan dalam hélaran.

Karena hélaran bebegig membutuhkan musik pengiring, maka diambilah rombongan réog untuk mengiringi laju hélaran bebegig. Musik réog inilah satuan waditranya bernama dogdog. Maka pada saat itu pula muncul istilah “Dogig” yang merupakan akronim dari “dogdog jeung bebegig”.

Lalu pada masa Abah Suyana, Seni Dogig dinyatakan menjadi seni tradisional untuk dijadikan tontonan masyarakat. Adalah Abah Cakra yang pertama kali menjadi Ketua Rombongan Dogig. Beliau adalah tokoh masyarakat yang sangat disegani. Mulai saat itu Seni Dogig sangat laku, terutama untuk helaran mengarak pengantin sunat, gusaran, dll.

Kini, seni tradisi itu kembali menggeliat setelah pada tahun 2008 tokoh masyarakat yang bernama Din Syamsudin menghidupkan Seni Dogig. Bahkan saat ini, panggilan untuk pentas di luar daerah sering terjadi. Akhirnya Seni Dogig menjadi kesenian tradisional yang cukup dikenal bahkan bukan hanya masyarakat Desa Ciniru, melainkan dari tetangga desa bahkan luar Kecamatan Ciniru. Saat sekarang yang menjadi pimpinan pengurus rombongan Seni Dogig adalah Pipin Rusmadi, yang juga menjabat Raksa Bumi (KAUR Kesra) Desa Ciniru.

 

Rombongan Seni Dogig siap mentas

 

Pertunjukan Seni Dogig umumnya dipergelarkan dalam bentuk hélaran. Hal ini sesuai dengan karakternya, bahwa bebegig membutuhkan area yang cukup luas agar pergerakan dan ekspresinya bebas. Hélaran tersebut biasanya menyusuri jalan dengan rute tergantung keinginan yang punya hajat atau panitia. Hal ini jika Seni Dogig diminta untuk mengarak pengantin sunat, pesta Desa, 17 Agustus-an, Hari Jadi Kuningan, dll. Namun untuk demonstrasi biasanya dilaksanakan di lapangan atau alun-alun.

Perkembangan berikutnya Seni Dogig dipadukan pula dengan kesenian lainnya yang bersifat mistis, yaitu permainan yang biasa dilakukan pada kesenian semacam Kuda Lumping. Dalam demonstrasi inilah salah seorang pemain kesurupan, kemasukan roh halus─sama seperti pada demonstrasi kuda lumping. Namun yang kesurupan bukan bebegignya, tetapi pemain pendukung lainnya, dia memakan habis semua sasajén termasuk ayam yang masih hidup. Lalu Punduh akan menyadarkannya agar normal kembali setelah oleh punduh diképrét (diciprat) dengan cai (air) kendi tirta manik yang sebelumnya sudah dikondisikan oleh punduh itu sendiri.

Hal lain yang unik adalah pada saat pentas bebegig ini juga, bisa menjadi obat yang dipercaya mujarab bagi anak yang sulit bicara, punya penyakit koréng, atau pun penyakit yang sulit disembuhkan. Biasanya, pada saat bebegig pentas, keluarga yang sakit suka membawa nasi dalam wadah, disatukan dengan sasajén. Nasi inilah yang bisa menjadi obat ketika diberikan kepada anak yang disebutkan tadi.

Bebegig yang ditampilkan biasanya berjumlah delapan orang lengkap dengan topeng dan badan berbalut injuk.

 

Berikut ini personal Seni Dogig:

 Seorang Punduh (sekarang dipegang oleh Kusnadi);

 10 orang bebegig;

 8 orang petani berbaju hitam dan seroal hitam, pakai dudukuy cetok memanggul pacul (cangkul) dan bersolendang sarung;

 8 orang ibu tani memakai kebaya hitam, berkain batik réréng putih, ngais boboko diisi makanan kampung (kulub sampeu, seupan hui, seupan cau emas, timbelna sangu beureum, jeung pais beunteur),  menenteng kétél;

 seorang sinden lelaki pelantun lagu-lagu lawas seperti; rayak-rayak, rereogan, kembang beureum, sintren, dsb.;

 4 orang pemain réog (penabuh dogdog);

 seorang penabuh kendang;

 seorang peniup tarompet; dan

 seorang pembawa sasajén pada nyiru.

 

Sebelum pelaksanaan helaran atau demonstrasi dogig, terlebih dahulu melakukan ritual yang dipimpin oleh punduh. Dalam ritual tersebut disediakan sasajén. Menurut kepercayaan masyarakat sasajén tersebut disuguhkan kepada roh halus sebagai tanda terima kasih. Sasajén ditempatkan pada wadah yang disebut nyiru. Isinya antara lain: surutu, endog asin, tangkuéh, gula watu, rokok jinggo, duwegan kalapa héjo. Selain itu ada pula kendi (wadah cai tirta manik), cikopi pait, citéh manis, dan hayam jago jajangkar.

 

  Kesenian Dogig dari dusun buyut saur desa Ciniru Kuningan - YouTube  

Helaran dogig mengarak penganten sunat.

 

kasenian Dogig kabupaten kuningan Jawa Barat - YouTube  Budaya: Sesajen

Sasajén diletakkan di tengah area pentas.

 

*****

Jual kendi tanah liat kecil di Lapak Akbar Gerabah | Bukalapak

Kendi (wadah cai tirta manik)

 

D.  Aspek Sosial

Jika dipandang dari aspek sosial bebegig ini sangat menyatu dengan kehidupan baik dengan manusia itu sendiri maupun dengan alam. Untuk itu penulis menggambarkannya dari dua sisi sosial yang melekat pada Seni Bebegig:

1.  Penggunaan bebegig sebagai sarana bercocok tanam:

a. Mempererat kekeluargaan antar para petani, karena dapat saling membantu ketika membuat bebegig.

b. bersahabat dengan alam dan lingkungan, karena bebegig tidak membunuh hewan sebagai hama tanaman, melainkan hanya mengusirnya agar tidak mendekat dan tidak memakan tanaman petani.

2.  Bebegig setelah dimodifikasi menjadi Seni Dogig

a. Seni Dogig adalah kesenian yang dikenal masyarakat di lingkungannya;

b. Seni Dogig merupakan alat hiburan yang murah namun meriah sehingga dapat terjangkau oleh kalangan mana pun;

c.  Seni Dogig melibatkan banyak personal sehingga sedikit banyak dapat membina mental dan moral manusia khususnya generasi muda;

d.  ketika sedang mentas Seni Dogig dapat mempengaruhi nilai ekonomis warga sekitar.

 

Download Dogig Alias Dodog Bebegig Mp3 Mp4 3gp Flv | Download Lagu Mp3  Gratis

Banyaknya pengunjung yang nonton dapat mempengaruhi nilai ekonomi.

 

E.  Fungsi dan Manfaat

Jika dipandang dari aspek fungsi dan manfaat bebegig ini sangat menyatu dengan kehidupan baik dengan manusia itu sendiri maupun dengan alam. Penulis menggambarkannya bahwa:

1.  Fungsi dan Manfaat Bebegig

1) Fungsi Bebegig

Bebegig berfungsi sebagai alat untuk menakut-nakuti hewan pengganggu tanaman (terutaman padi) agar hewan-hewan tersebut menjauh dari tanaman garapan petani, dan tidak mengganggu tanaman.

2) Manfaat Bebegig

Bebegig bermanfaat untuk meminimalisir kerugian bercocok tanam karena hewan-hewan pengganggu menjauh dari area sawah/huma sehingga hasil panen menjadi mucekil.

2.  Fungsi dan Manfaat Seni Dogig

1) Fungsi Seni Dogig

(1) Bebegig berfungsi sebagai alat hiburan bagi masyarakat.

(2) Bebegig berfungsi sebagai alat untuk mempererat hubungan sosial antar warga masyarakat.

2) Manfaat Seni Dogig

(1) Seni Dogig sangat bermanfaat bagi masyarakat sebagai sarana hiburan yang murah.

(2) Seni Dogig bermanfaat bagi yang membutuhkan dalam helaran baik hajatan pribadi atau pun helaran pada berbagai pesta atau kenduri.

 

 

F.  Persebaran Seni Dogig

Sampai sekarang Seni Dogig hanya ada di Dusun Buyut Saur, Desa Ciniru, Kecamatan Ciniru, Kabypaten Kuningan.

 

G.  Nilai-nilai yang terkandung dalam Seni Dogig

Dalam kesenian Dogdog jeung Bebegig (Dogig) terkandung nilai-nilai filosofis yang sangat tinggi, seperti:

1.  Nilai religius, yaitu ketika rombongan melakukan ritual (berdo’a) yang dipimpin oleh Punduh Dogig.

2.  Bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmatnya, termasuk hasil panen yang mucekil.

3.  Nilai pengetahuan dan teknologi tradisional, yaitu tentang rancang bangun bebegig yang digunakan sebagai alat pengusir hama di sawah atau huma.

4.  Kekeluargaan dan gotong royong, yaitu interaksi antar bebegig (pada Dogig) yang kompak.

5.  Secara ekonomis kesenian Dogdog jeung Bebegig (Dogig) dapat menjangkau semua kalangan masyarakat, selain itu tidak perlu menggunakan panggung yang dirancang sedemikian rupa, tetapi cukup di ruang terbuka.

 

 

III.  KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

A.  Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kesenian Dogdog jeung Bebegig (Dogig) yang merupakan modifikasi─perpaduan antara kesenian réog dengan tradisi pertanian merupakan hasil kecerdasan masyarakat yang secara sepakat diakui sebagai kesenian yang sesuai dengan karakter masyarakat, khususnya Dusun Buyut Saur, Desa Ciniru.

Lebih dari itu kesenian Dogig memiliki ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan bebegig-bebegig lainnya, terutama bentuk, motif, dan karakternya, demikian pula fungsi dan manfaatnya. Seni Dogig adalah satu-satunya jenis kesenian yang hanya terdapat di Dusun Buyut Saur, Desa Ciniru, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan.

 

B.  Rekomendasi

Berdasarkan hasil penilaian dan kajian penulis. Penulis berpendapat bahwa Seni Dogdog jeung Bebegig (Dogig) yang terdapat di Dusun Buyut Saur, Desa Ciniru, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan,  layak dicatatkan serta diakui untuk dikukuhkan sebagai Warisan Busaya tak Bensa (WBtB), dan merupakan salah satu kekayaan budaya khususnya Kabupaten Kuningan, dan juga Jawa Barat dan nasional.

 

*****

 

 

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Dogdog jeung Bebegig (Dogig) Seni Pertunjukan Simbol Kegotongroyongan Masyarakat Desa Ciniru Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan