Cerpen: Aku Pulang

”Sebagian memilih untuk pulang dan sebagian lagi memilih untuk tetap tinggal. Kau harus memilih.” 

(Ki. Pandita)




Tahun-tahun ini merupakan hari yang tersulit dalam hidup. Semua yang menjadi harapan dan mimpi, tiba-tiba lenyap. Kau tahu apa artinya itu? Kemarau terasa menyengat dan penghujan semakin menyayat. 

Kau fikir, pulang itu mudah seperti membalikan telapak tangan? Sebagian orang memilih untuk pulang dengan membawa semua ketidakberdayaan. Lalu berceloteh tentang kisah jatuh bangun. Ada pula yang hanya diam, karena tahu diri, banyak kekalahan yang tidak mampu untuk diceritakan. Setidaknya ketika pulang, masih ada orang-orang yang dirindukan. Sebagian lagi memilih untuk tetap tinggal. Sebab, pulang merupakan perang batin yang tidak mudah untuk dihadapi. 

Di rumah kontrakan berwarna merah, berpagar teralis hitam, Yuyun berlenggang sendiri sambil menenteng belanjaan dari warung depan jalan raya. Empat Pop Mie, dua botol Pulpy Orange dan sebungkus kuaci bunga matahari. Di lantai dua, kamar paling pojok samping toren air, dengan gorden hijau daun. Di kontrakan itu, Yuyun tinggal sendiri. Sore itu jalanan sedikit becek tergenang hujan tadi siang. Arus mudik terlihat mulai berirama. Dua orang kawan telah lebih dahulu pulang kampung. Tuti, pegawai pabrik, hari rabu kemarin pulang ke Kuningan. Sedangkan Farida, tukang salon, hari kamis dijemput pacarnya pulang ke Indramayu. Membahas rencana perkawinan mereka dekat ini.

Diseruputnya Pop Mie yang masih panas. Ruang kamar tertutup rapat, penuh plastik bekas makanan yang belum sempat dibersihkan. Beberapa tayangan youtube diperhatikan dan digeser dengan cepat karena tidak menarik. Direbahkan tubuhnya yang lelah pada kasur kecil di sudut tembok. Matanya menatap langit-langit kamar. Hatinya mulai menerawang dan berandai tentang rencana pulang kampung. Bunyi kipas angin memenuhi hampir seluruh kenangan masa lalu.

Di Majalengka, kampung halamannya, Yuyun memiliki seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang ditinggalkan di rumah orang tua. Lelaki yang dahulu pernah dicintainya kabur tidak kembali kepincut perempuan lain di Nyalindung Sumedang. Rumah tangga seumur jagung, tidak terduga menyisakan kehancuran dan luka. Berusaha mengobati hati dan melupakan semua kegagalan hidup, Yuyun bekerja di Karawang sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta. Demi menyambung hidup dan masa depan anaknya.

Dibukanya galeri hp, sambil berlinang air mata menatap beberapa foto dan rekaman video anaknya. Sudah 3 tahun ini, ia tidak pulang. Bisa ngobrol via video call rasanya sudah sangat bahagia. Tiap bulan dikirimkannya separuh gaji untuk kebutuhan  anaknya. Sebagian lagi untuk membayar hutang orang tua di Majalengka yang terlilit rentenir. Biaya hidup dan kontrakan dicukupi dari lembur. Dan itu tidak cukup, jauh dari cukup. 

Beberapa lelaki berusaha menggoda dan mendekatinya. Satu diantaranya nampak serius dan memberikan perhatian secara khusus padanya. Menambah kekacauan dan riuh dalam kepala. Belajar dari kegagalan kemarin, dan luka yang belum sembuh, tidak mudah untuk membuka hati kembali. Lelaki itu tentu harus bisa menerima segala kekurangannya, terutama bisa menyayangi anaknya. Tidak sesederhana itu juga, karena belum tentu keluarganya mau menerima seorang perempuan beranak satu. Ah hidup itu rumit dan banyak skenario, sudahlah.

Dibulatkannya tekad, besok hari raya lebaran ia pulang. Di dompet uang sisa tiga ratus ribu, cukuplah untuk ongkos jalan. Baju dikemasi dalam tas, beserta beberapa oleh oleh untuk anak dan orang tuanya. Jiwanya terasa terbakar ingin segera pulang. Kerinduan itu menyakitkan dada. 

***


Ramadan, duduk di kursi rotan kontrakan Suryadi, teman satu-satunya. Ia hanya seorang Satpam di sebuah kantor kecil di Gajah Mada. Sedangkan Suryadi, temannya bekerja sebagai supir. Besok, Ramadan akan pulang ke Subang membonceng motor Legenda butut milik Suryadi. Tiap tahun ia selalu sempatkan untuk pulang. Ramadan dan Suryadi belum berani untuk menikah, walau pun usia mereka sudah hampir memasuki masa tenggang. Gajinya kecil, hanya cukup untuk bayar kontrakan dan beli lauk. Cinta saja tidak cukup, begitu celoteh pak haji pemilik kontrakan, bandar telor di wilayah itu. Semakin ciut saja nyali mereka untuk berumahtangga. Kecuali terjadi keajaiban, tembus empat angka singapur dan menjadi kaya mendadak. Atau ada perempuan nekad yang sedikit kurang waras fikirannya, akhirnya mau diperisteri. Ah, itu hanya bualan dan tidak mungkin terjadi. Kenyataannya hidup tidak pernah berobah, begini-gini saja.

Cukuplah untuk bensin motor seratus ribu sampai kampung halaman. Tidak perlu banyak jajan dan bawaan supaya irit uang. Cukup bawa diri selamat sampai rumah. 


***


Di beranda rumah yang terhalang pohon jambu air, Yuyun berdiri mengamati sekitar. Tidak ada yang berubah, semua masih sama kecuali warna tembok yang memudar dan dibeberapa bagian mengelupas. 

“Mak.... Mak, mak, aku pulang”! Dari pagar bambu depan rumah, Yuyun berteriak memanggil. Tidak ada yang menyahut.

“Mak.... Mak, mak, aku pulang”! Berjalan melipir ke samping rumah arah pintu dapur. Tidak juga ada orang dijumpai. 

Dari rumah tetangga yang dibatasi pohon teh-tehan, seorang anak perempuan kecil dengan kaos kumal tidak terawat mendekatinya. Berdiri menatap dengan segala rasa yang ada, Yuyun langsung bergegas memeluknya. Dengan suara sesenggukan nyaris tidak terdengar, “Ayu... ibu pulang. Ayu, ini ibu pulang. Ayu, ini ibu pulang.” 


***


Ramadan telah sampai di sana. Tapi ia tidak pulang ke rumah. Sebab ia tidak mau melihat isteri muda bapaknya. Ramadan berjalan masuk menyusuri kebun singkong dan berhenti di sebuah pekuburan. Ditaburnya bunga setaman pada pusara ibunya, dan memanjatkan doa.

“Ibu....Aku pulang. Ibu, Ramadan pulang. Ibu, anakmu pulang.” Dibukanya botol minuman dari dalam tas. Duduk bersipuh dalam rindu. Dibasahinya pusara itu dengan rintik air mata. 


***

Suryadi duduk di trotoar jalan raya dihalangi motornya. Matanya tajam memperhatikan rumah biru yang di halamannya tumbuh pohon mangga arum manis. Perempuan dengan rambut pendek menggendong bayi dengan kain, terlihat bersenandung depan pintu berwana coklat tua. Ia tidak berani mendekat bahkan selangkah pun. Perempuan itu adalah cintanya. Setahun lalu telah menikah dengan lelaki lain. Cintanya kandas karena perbedaan agama. Hatinya hancur lebur.  Dalam dada ia berterik keras, hanya dalam dada saja.

“ Aku pulang..... Aku pulang.” Tangannya mengepal kuat, sambil membenturkan kepala pada tas dipangkuannya. 


***


Kepada siapa kamu akan pulang? Adakah seseorang yang mencintaimu dan menunggumu pulang? Siapakah yang ingin kau beri maaf? Kepada siapakah luka telah ditoreh, sehingga kau harus memohon maaf darinya? ”Sebagian memilih untuk pulang dan sebagian lagi

memilih untuk tetap tinggal. Kau harus memilih.” 


Selamat Idul Fitri

Ki. Pandita 


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Aku Pulang"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.