Hot News
30 Mei 2026

Tren Freestyle Merenggut Nyawa, Alarm Bagi Pendidikan Anak



Oleh Ira SR
Aktivis Muslimah

Fenomena tren freestyle yang viral di media sosial belakangan ini menjadi perhatian serius setelah menelan korban jiwa anak-anak di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Dua anak dilaporkan meninggal dunia akibat cedera leher setelah menirukan aksi berbahaya yang mereka lihat dari media sosial dan game online. Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan biasa, tetapi alarm keras tentang rapuhnya perlindungan generasi di tengah derasnya arus digital saat ini.

Anak-anak pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu dan kecenderungan meniru yang sangat tinggi. Pada usia dini, mereka belum mampu membedakan secara matang mana tindakan yang aman dan mana yang membahayakan. Apa yang terlihat menarik, keren, atau viral sering dianggap layak dicoba tanpa memahami risikonya. Ditambah lagi, budaya media sosial yang menjadikan likes, views, dan tren sebagai ukuran pengakuan membuat anak terdorong mengikuti apapun yang sedang populer.

Masalahnya, ruang digital hari ini dipenuhi konten yang tidak semuanya aman bagi perkembangan anak. Gerakan akrobatik ekstrim, tantangan berbahaya, hingga adegan dari game online dapat dengan mudah diakses tanpa filter memadai. Di sisi lain, pengawasan terhadap penggunaan gawai masih lemah. Banyak anak menggunakan ponsel tanpa pendampingan orang tua, bahkan mengakses media sosial sejak usia sangat muda.

Pemerintah memang telah membuat sejumlah regulasi terkait perlindungan anak di ruang digital. Namun, kenyataannya berbagai aturan tersebut belum mampu membendung derasnya konten berbahaya. Anak-anak tetap bisa mengakses berbagai tontonan yang tidak sesuai usia, bahkan sering kali lebih cepat memahami celah teknologi dibanding pengawasan orang dewasa.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan bukan hanya soal kurangnya pengawasan, tetapi juga berkaitan dengan sistem kehidupan yang membiarkan industri digital berkembang berdasarkan keuntungan semata. Konten dibuat untuk menarik perhatian sebanyak mungkin tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap moral maupun keselamatan anak. Akibatnya, ruang digital lebih banyak membentuk pola pikir instan, budaya ikut-ikutan, dan minim pertimbangan manfaat.

Dalam Islam, anak dipandang sebagai amanah yang wajib dijaga dan dididik dengan baik. Anak bukan sekadar individu kecil, tetapi calon generasi penerus umat yang harus dibentuk akidah, akhlak, dan pola pikirnya sejak dini. Karena itu, Islam menempatkan pendidikan anak sebagai tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan negara.

Orang tua memiliki kewajiban mendampingi dan mengarahkan anak agar tidak tumbuh mengikuti tren yang merusak. Rasulullah saw. bersabda, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” Pendidikan dalam Islam tidak hanya mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga membentuk kepribadian dan akhlak yang kuat sehingga anak mampu memilah mana yang baik dan buruk.

Masyarakat juga memiliki peran penting melalui budaya amar makruf nahi mungkar, yaitu saling mengingatkan dan menjaga lingkungan agar tidak menormalisasi perilaku berbahaya. Anak-anak tidak boleh dibiarkan tumbuh di lingkungan yang menjadikan tindakan berisiko sebagai hiburan atau kebanggaan.

Adapun negara dalam Islam berperan sebagai pengurus rakyat yang bertanggung jawab menjaga keselamatan generasi. Negara tidak cukup hanya membuat aturan administratif, tetapi wajib memastikan ruang informasi dan pendidikan benar-benar aman bagi anak. Konten yang membahayakan fisik maupun moral generasi tidak akan dibiarkan tersebar bebas demi kepentingan industri dan keuntungan materi.

Negara juga berkewajiban menyediakan sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang membentuk generasi berkepribadian Islami, cerdas, dan bertakwa. Dengan sistem pendidikan seperti ini, anak-anak tidak hanya dijaga dari bahaya fisik, tetapi juga dibentuk agar memiliki kontrol diri serta kemampuan menyaring pengaruh buruk di tengah perkembangan teknologi.

Tragedi freestyle yang merenggut nyawa anak-anak seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama. Generasi tidak cukup dilindungi hanya dengan imbauan sesaat atau pembatasan teknis penggunaan gawai. Diperlukan sistem pendidikan dan lingkungan yang benar-benar menjaga anak dari akar persoalan. Sebab, masa depan umat bergantung pada bagaimana generasi hari ini dibina dan dilindungi. 

Wallahu’alam bissawab.
Next
This is the most recent post.
Posting Lama
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Tren Freestyle Merenggut Nyawa, Alarm Bagi Pendidikan Anak Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan