728x90 AdSpace

Update
1 November 2020

Sekisah Maulid dan Kidung Cinta Muhammad

oleh: Syafaat Mohamad


قم قم يا حبيبي كم ساعة تنم؟ النوم على الاشيق حرام 

“Bangun! Bangun, Sayangku. Berapa lama kau akan tidur? Tidur terlarang bagi pencinta”

Dalam sebuah karyanya di awal tahun 2000, pujangga profetik tanah air kelahiran Sumenep Madura, Abdul Hadi Wiji Muthari merangkum secara apik lintasan tradisi Islam peradaban mulai dari sastra dan hikmah, sejarah, estetika, seni rupa hingga musik.

Kutipan syair yang merupakan bagian dari Kidung ninabobo hasil gubahan penyair Sindi Abad ke-19, Muhammad Machi di atas, adalah satu di antara hasil kerja laten yang maha apik tersebut. Sebuah kidung yang menjadi bagian dari puisi panjang Machi mengenai kehidupan Nabi Muhammad, terhitung sejak masa kelahiran hingga balutan masa kedewasaan beliau menjelang dan pasca penerimaan risalah berupa pancaran persona Tuhan yang melekat pada dirinya dalam sifat sabar, arif, jujur, berani, berpikiran cemerlang dan cinta kemanusiaan.

Memasuki hari-hari perayaan maulid Nabi Muhammad Saw di tarikh 12 Rabiul Awal 1442 Hijriyah saat ini, tepat kiranya kita sedikit mengulik-balik lembaran-lembaran emas yang mengisahkan bagaimana peristiwa-peristiwa agung itu dimaknai oleh umat muslim khususnya dalam tradisi sastra.

Sebagaimana tergambar dari riwayat kidung sang penyair Sindi, nilai keagungan manusia Muhammad telah terpancar bahkan sejak malam kelahirannya. Jika kelak dikenal sebuah malam kemuliaan yang derajatnya berkali-kali lipat dari seribu bulan, yaitu ketika kalam Al-Qurán diturunkan sebagai risalah kenabian, maka momentum malam kelahiran sang Nabi adalah satu-satunya masa yang dapat sebanding dengan maqam lailatul qadar tersebut. Dalam hikayat-hikayat agung berkenaan dengan peristiwa kelahiran kanjeng Nabi, penduduk Turki dan India kemudian mengabadikannya dalam ingatan kidung ninabobo berikut:

“Pada malam setelah Nabi lahir, al-kisah Jibril diperintahkan menggoyang buaian beliau, sehingga bayi Muhammad itu menangis, dan kemudian untuk menenangkan bayi yang tak berbapak itu Jibril menyanyikan sebuah kidung ninabobo”. 

Adalah lazim di masyarakat Muslim, pada malam kelahiran sang Nabi itu ditamsilkan dengan malam diturunkannya wahyu pertama kali, mereka kemudian berjaga sampai pagi. Seorang ulama Aljazair abad 18 Ahmad Amar kemudian turut menuturkan, bahwa pada malam maulid itu dunia sedang diliputi sejarah penganugerahaan yakni hadirnya nabi besar sebagai rahmat yang paling agung. Malam kemunculan Nabi Muhammad bahkan lebih penting ketimbang turunnya malaikat. Hingga akhirnya kelahiran Muhammad dimaknai penting tidak hanya bagi umat Islam semata, melainkan juga bagi semesta.

Selain kidung Muhammad Machi yang populer di tanah asia barat itu, di belahan dunia lainnya masyarakat muslim khususnya di Indonesia tidak ketinggalan dengan keakraban atas kitab-kitab penting yang menjadi rujukan dalam perayaan maulid Nabi di Nusantara. Diantara kitab-kitab yang masyhur dibacakan setiap kali perayaan maulid Nabi diadakan antara lain adalah Kitab Barjanzi karangan Syekh Ja’far bin Husein bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barjanzi, Kitab Syaraf al-Anam dan Kitab Maulid Ad-Dibai yang dinisbatkan karangannya kepada Abdur Rahman ad-Dibai, Kitab Maulid Simthud Durar atau biasa dikenal dengan Maulid Al-Habsyi disusun oleh Habib bin Ali Al-Habsyi, Kitab Maulid al-‘Azab yang berbentuk 140 bait syair yang ditulis oleh Syekh Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-‘Azab, serta yang terakhir adalah Kasidah Burdah karya sastrawan sufi kelahiran Maroko yang besarnya melakukan pengelanaan di Mesir yaitu Syekh Said al-Busyairi. 

Kitab populer terakhir ini, yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad Saw ini bahkan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi Swahili, Pastun, Melayu, Sindi, dan tak kalah ketinggalan pula hingga bahasa Inggris, Prancis, Jerman dan Italia.

Perayaan maulid Nabi adalah bagian penting dari sejarah babak keberagamaan masyarakat muslim dunia. Peristiwa ini lahir pada abad ke 8 Masehi, yaitu ketika Sang Ibunda Khalifah Harun al-Rasyid, Siti Zainab mengubah rumah tempat tinggal nabi ketika lahir di Kota Makkah menjadi sebuah oratorium yang berisikan ceramah-ceramah mengenai kemulian sifat dan kehidupan Nabi Muhammad. 

Tak hanya keluarga khalifah saja yang diperkenankan hadir, namun juga berbondong-bondong orang yang mengunjungi tanah suci saat itu turut larut dalam peristiwa pengungkapan cinta terhadap kanjeng rasul, sang pujaan. Pada malam maulid, para ulama dan sarjana mengambil peran utama dalam mengisahkan hikayat cinta dan kerinduan atas rasul. Sedangkan para kaum dhuafa dan miskin menerima sedekah berlimpah disertai jamuan manisnya madu yang merupakan makanan kegemaran Nabi, dan beragam hidangan domba, kambing dan sapi berbumbu minyak ziatun yang dibakar. 

Peristiwa guyub penuh kebahagiaan ini tentu tidak saja berlaku di kota kelahiran sang Nabi, Ibn Khalliqan sebagai direkam oleh Abdul Hadi WM di dalam bukunya yang menjadi sumber utama tulisan ini, juga dirayakan di belahan negeri yang lain, diantaranya adalah di Arbella Irak Utara, dimana keceriaan peristiwa maulid Nabi tidak didominasi dan ditentukan oleh rentetan acara sang sultan penguasa, melainkan dihadirkan kebersamaan ungkapan cinta dari kalangan  sufi berupa doa dan khutbah serta iringan musik hingga pertunjukan wayang Cina.

Demikian kiranya potret ringkas ini coba disajikan, semoga ada segenggam hikmah atas perayaan maulid di tengah tekanan pandemik dan amuk media Prancis di akhir tahun ini.

Semoga berkah kebaikan dan kesehatan jiwa serta pikiran senantiasa menyertai hamba-hamba Muhammad Sang Tercinta. 

آللهم صل على سيدنامحمد وعلى اله وصحبه

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Sekisah Maulid dan Kidung Cinta Muhammad Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan